Author: Monie Akakuro
Contact Author: Twitter @Jonghyunaaa
Panjang Cerita: 4.600 words
Main Cast:
– Zhang Yixing/ Lay EXO
– Jang Eun Sil (OC)
Other Cast:
- Kim Junmyeon / Suho EXO (Cameo)
Genre: Romance
Rating: PG – 15
Note: Story ke 5! Dari The Story Of EXO! Karakter
Lay disini author buat beda ama aslinya hehehe coz powernya Lay yang ‘Healing’
jadinya author bikin dia bisa nyembuhin sakit hatinya wanita2.. *gak nyambung*
***
Cinta? Apa itu Cinta?
Zhang Yixing membuka lembaran buku
sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Jari nya menelusuri tulisan
yang ada didalam buku berharap ia bisa menemukan jawaban yang apa ia butuhkan.
"Aah.." Desah Yixing
membuka sedikit mulutnya saat matanya menemukan beberapa baris kalimat yang
mungkin bisa menjelaskan jawaban untuk otaknya.
Berdasarkan
kamus, Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan
pribadi.
Dalam
konteks filosofi, Cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan,
perasaan belas kasih dan kasih sayang.
Pendapat
lainnya, Cinta adalah sebuah aksi atau kegiatan aktif yang dilakukan manusia
terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang,
membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang
diinginkan objek tersebut.
Arti cinta seperti itu? Kasih
sayang? Pengorbanan diri? Mau melakukan apa pun yang di inginkan objek?
"Aaaahhhh igeo mwoya!???"
Erang Yixing mengacak-acak rambutnya karena semakin tidak mengerti setelah
membaca jawaban untuk pertanyaan yang ia cari sejak tadi.
"Sssstttt!!!!!!"
Mata Yixing melirik ke kanan
kirinya. Terlihat banyak pasang mata menatap sebal ke arahnya dan beberapa
orang menempelkan jari telunjuk didepan mulut mereka menyuruhnya diam karena
merasa terganggu oleh erangan Yixing tadi.
"Joesonghamnida..." Kepala
Yixing tertunduk malu menyadari sikapnya tadi membuat para orang yang berada
didalam perpustakaan ini terganggu.
Ia menutup buku tebal didepannya dan
bangkit dari duduknya untuk mengembalikan buku ini ke tempat rak nya semula.
Sekarang ia mencoba mencari buku lain berharap ia bisa mendapatkan jawaban yang
lebih memuaskan otak dan juga hatinya.
Cinta? Apa itu? Seperti apa
rasanya?
Lay's
Story: What Is Love?
Kriiinnnggg... Kriiiinnnggg...
Sebuah tangan muncul dari dalam
selimut menggapai-gapai ke meja disamping tempat tidur mencoba mencari suara
ponsel yang terus berdering.
Tangan itu terus meraba-raba
permukaan atas meja masih belum menemukan dimana letak sesungguhnya ponsel itu
berada.
Akhirnya pemilik tangan itu menyerah.
Ia membangunkan tubuhnya dan terduduk di tempat tidur dengan mata yang masih
mengantuk menengok ke arah meja mencari dimana ponsel itu sebenarnya.
"Hm..." Jawab nya
mengantuk setelah mengambil ponselnya yang berada di ujung meja hampir
terjatuh.
"ZHANG YIXING!! DIMANA KAU!? 2
JAM LAGI KAU HARUS SUDAH ADA DI AIRPORT!"
Pemilik tangan tadi yang bernama
Zhang Yixing itu langsung menjauhkan ponselnya dari telinga setelah mendengar
suara teriakan dari orang yang meneleponnya. Hampir saja gendang telinga nya
pecah mendengar teriakan itu. Siapa pagi-pagi begini yang
meneleponnya. Batinnya kesal. Ia mendekatkan lagi ponselnya agar matanya bisa
melihat nama dilayar siapa yang menelepon.
Manager Hyung.
Nama itu yang tertera di layar
ponsel. Membuat Yixing mendesahkan nafas panjang. Lagi-lagi ia lupa dengan
jadwalnya hari ini.
"Iya aku akan kesana.."
Jawab Yixing malas dan langsung mematikan ponselnya setelah mendengar suara
manager hyung mau berteriak lagi.
Ponselnya tidak ia taruh lagi diatas
meja, melainkan melemparnya ke sembarang arah membuat ponsel itu terjatuh ke
lantai di dekat tempat tidur.
Yixing tidak perduli melihat layar
ponsel langsung mati seketika. Malah itu yang ia inginkan karena tidak akan
terganggu lagi dengan suara deringan ponsel dan teriakan dari manager hyungnya.
Ia menguap dengan sangat lebar dan
merentangkan kedua tangannya ke atas. Membuat nyawa nya sudah terkumpul kembali
dari tidur nya yang nyenyak pagi ini.
"Zǎoshang hǎo~"
Terdengar suara bisikan seorang
wanita menyapa selamat pagi didekat telinga kanannya. Yixing merasakan tangan
wanita itu mulai menjalar di kulit punggungnya yang tidak mengenakan pakaian.
Dan tubuh wanita itu pun semakin mendekat memeluknya dari belakang.
Tanpa merespon sikap wanita itu,
Yixing membuka selimutnya untuk mengambil celana panjang yang berada dibawah
tempat tidur dan ia pun segera memakainya.
"Zhang Yixing~" Panggil
wanita itu dari tempat tidur sambil menutupi dadanya dengan selimut putih
melihat sikap acuh Yixing kepadanya.
Yixing berpakaian dalam diam tanpa
memperdulikan suara rayuan wanita itu. Ia menoleh sebentar ke wanita itu
setelah ia berpakaian lengkap. Mengelus pipi nya dan membuat wanita itu
tersenyum senang karena akhirnya Yixing merespon pada nya.
"Xiexie ni zuo wan.." Ucap
Yixing didepan wajah wanita itu sambil tersenyum.
Melihat lesung pipi disamping
senyuman manis bibir Yixing membuat wanita itu seperti terhipnotis. Lidahnya
pun terasa kelu tidak bisa menolak beberapa lembaran uang yang ia terima di
tangannya oleh pria yang baru saja menyewa jasa tubuhnya tadi malam.
"Bye China~ ku harap kau tidak
pernah bertemu lagi denganku.." Ujar Yixing menepuk-nepuk pipi wanita
bayaran itu masih sambil tersenyum tanpa niat sebelum ia meninggalkan kamar
mewah hotel ini.
Bercinta. Apakah ini rasanya cinta?
Kenapa rasanya sama saja seperti ia melakukan bercinta dengan wanita yang lain.
Tidak ada istimewa dihati nya, hanya kepuasan sesaat saja. Apa ini bukan cinta?
***
"Kyaaa!! Itu Zhang Yixing!
Tampan sekali!"
"Dia sudah kembali ke Korea!
Musisi handal kita sudah kembali ke universitas ini!"
"Lihat! Zhang Yixing menatap ke
arah sini!"
"Kyaaa dia tampan sekali!"
"Aku tidak perduli dia seorang
playboy, yang penting wajah dia tampan dan aku menyukainya!"
Drrrttt.. Drrrtt...
Yixing mengambil ponsel nya yang
bergetar di dalam saku. Terlihat di layar ponsel nama 'Manager Hyung'
memanggil.
"Hmm.." Jawab Yixing
singkat masih sambil berjalan di koridor dan mencoba tidak memperdulikan
tatapan-tatapan para wanita yang berbinar-binar melihat dirinya jalan di depan
mereka.
"Ne arraso arrasooo.. Aku akan
membuatnya! Tapi aku butuh mood dan ide sekarang! Kau jangan menggangguku
lagi!" Bentak Yixing langsung mematikan ponsel nya dengan wajah kesal.
Lagi-lagi manager nya cerewet sekali
mengingatkan dia dengan tugas dari pihak agensi membuat lagu-lagu cinta untuk
album nya yang baru.
Dan masalahnya sekarang adalah
Yixing masih mencari ide itu.
Yixing masuk ke kelas musik dan
langsung menutup pintu agar ia tidak mendengar lagi para wanita itu memekikan
namanya. Berisik sekali.
Kelas musik ini kosong tidak ada
orang didalam kecuali dirinya. Ini yang Yixing butuhkan sekarang. Suasana sepi
untuk memainkan gitar yang dibawanya.
Diletakan sarung gitar itu diatas
meja dan duduk disamping jendela sambil memegang gitarnya. Jendelanya sengaja
ia buka lebar agar asap rokok yang ia nyalakan bisa keluar terbawa angin.
Gitar, rokok, suasana hening. Dengan
begini otaknya bisa berpikir dengan sempurna untuk menciptakan sebuah lagu
lagi.
Namun sepertinya kenyamanan yang
baru saja Yixing dapatkan harus rusak ketika telinganya mendengar suara derap
langkah seseorang berlari dan masuk ke dalam ruangan kelas lalu menutup
pintunya dengan kencang.
"Ah kau disini rupanya! Cepat
sembunyikan aku ppali ppali!!"
Yixing menghembuskan kencang asap
rokok ke udara sebelum ia mematikan rokoknya yang baru saja ia nyalakan saat
melihat seorang pria tampan dengan tergesa-gesa menghampirinya dan mencoba
bersembunyi dibalik bangku yang ia duduki.
"Kim Junmyeon apa lagi yang kau
perbuat sekarang??" Tanya Yixing malas menoleh ke arah satu-satunya
sahabat yang ia miliki di Korea. Kim Junmyeon, seorang anak milyarder yang
sudah ia kenal sejak lama saat mereka bertemu waktu itu di sebuah acara party
di China. Dan sejak saat itu mereka menjadi dekat. Setiap Junmyeon berada di
China pasti ia datang menemuinya. Begitu pula sebaliknya jika ia datang ke
Korea.
"Ya tubuh kau jangan bergerak
nanti wanita gila itu akan menemukanku!" Ujar Junmyeon menggeser tubuh
Yixing agar tetap pada posisinya semula.
"Apa yang kau lakukan lagi
padanya sampai kau bersembunyi seperti ini? Biasanya kau selalu
menantangnya?" Tanya Yixing lagi tidak dapat menahan tawa nya melihat
keringat Junmyeon yang mengalir di dahinya saking lelahnya tadi ia berlari.
"KIM JUNMYEON!! KELUAR
KAU!!"
Belum sempat Yixing mendengar
jawaban dari Junmyeon kepalanya menoleh dengan cepat ke arah pintu yang
menjeblak terbuka dengan kencang. Seorang wanita cantik memakai dress pink
selutut masuk sambil mengacungkan sebuah sapu ditangannya.
"Choi Se Ra~ kau terlihat tidak
cantik dengan benda itu ditanganmu~" Ucap Yixing sambil tersenyum ke arah
Se Ra dan mencoba mengambil sapu itu dari tangannya.
Tangan Se Ra mengelak dari tangan
Yixing menyelamatkan sapu nya dari jangkauan pria ini. "Boleh ku tukar
sapu ini dengan temanmu yang pengecut itu?" Tawar Se Ra menunjuk dengan
dagunya ke arah Junmyeon yang bersembunyi di balik punggung Yixing sambil
menatap sengit.
"Tapi sebelumnya boleh ku tahu
dulu kenapa kau sangat menginginkan dia? Kau sangat mencintai nya ya?"
Tanya Yixing sambil tersenyum geli meledek kedua pasangan milyarder ini.
Ucapannya membuat kepalanya tidak
selamat dari jitakan Junmyeon yang ada di belakangnya dan mendapat tendangan
singkat dari Se Ra di betis nya.
"Zhang Yixing! Cepat serahkan
pria pengecut itu sekarang juga!!" Desis Se Ra kesal melihat Yixing yang
sudah tertawa dengan ucapannya tadi.
"Tidak tidak... Aku tidak mau
melihat kalian berkelahi lagi. Kalian tidak bosan apa? Aku saja yang melihatnya
sangat bosan. Ada apa sih dengan kalian?" Ucap Yixing mencoba menengahi
pertempuran mereka sambil merentangkan kedua tangannya agar Se Ra tidak mencoba
mendekati Junmyeon yang ada dibelakang nya.
Se Ra menarik sejumput rambut nya
yang panjang ke depan agar Yixing bisa melihat sesuatu yang membuatnya murka
kepada sahabat nya itu. "Kau tahu? Rambut ku terkena permen karet yang
baru saja keluar dari mulut dia!"
Yixing bisa melihat dengan jelas
permen karet pink sudah menempel tidak karuan di rambut Se Ra yang panjang dan
sangat indah itu. Pantas saja.
"Suruh siapa kau lewat
disamping ku saat aku mau membuang permen karet ke tempat sampah hah!??"
Ujar Junmyeon membela dirinya dari balik bahu Yixing supaya ia tidak merasa
bersalah.
Tangan Yixing menahan tangan Se Ra
yang sudah mau memukul Junmyeon dengan sapunya. Dan terasa tangan Junmyeon
mencengkram bahunya dengan kuat. Akhirnya ia bisa mengambil sapu itu dari
tangan Se Ra.
Ia menghela nafas nya panjang dan
menatap Choi Se Ra. "Kau tahu? Rambut adalah mahkota wanita. Dan aku suka
sekali dengan rambut indahmu. Tapi sekarang permen karet itu membuat rambutmu
jadi mengerikan. Jadi kau boleh menghukum pelaku perusak rambutmu itu.."
Ucap Yixing sambil tersenyum dan kaki nya melangkah bergeser ke samping agar Se
Ra bisa leluasa menangkap Junmyeon.
"Ya! Yixing kenapa kau
mengkhianatiku!??" Teriak Junmyeon dengan cepat melesat ke arah tempat
gitar-gitar untuk bersembunyi dari kemurkaan Se Ra.
"Junmyeon bodoh!! Sini kau! Tanggung
jawab ke rambutku!!!!" Teriak Se Ra mengejar Junmyeon yang sudah berlarian
di ruangan kelas musik ini.
Melihat kelakuan sahabatnya itu
membuat Yixing tertawa terpingkal-pingkal. Ia seperti baru saja melepas seekor
singa untuk Junmyeon.
Namun tawa Yixing berhenti perlahan
melihat adegan yang terjadi didepannya. Yixing tahu mereka sedang melakukan
peperangan. Tapi ia melihat pengorbanan diri Junmyeon yang mau saja dipukuli Se
Ra secara bertubi-tubi.
Bibir Yixing menyunggingkan senyum
tidak tertawa lagi melihat mereka. Apa yang sedang dilihatnya sekarang adalah
Cinta?
Sepertinya disini ia tidak akan
mendapat ketenangan. Yixing membereskan gitarnya lagi ke dalam sarung. Lebih
baik ia pergi dan melanjutkan mencari idenya di tempat lain.
"Se Ra-ya ternyata kau disini!?
Aku mencarimu kemana-man.. Aw!"
Baru saja Yixing membalikan badannya
namun tiba-tiba ada seorang wanita masuk dan menabrak tubuhnya sehingga ia
langsung jatuh terduduk dilantai.
"Gwaenchana???" Tanya
Yixing menjulurkan tangannya agar wanita itu bisa berdiri.
Wanita itu mendongak dan menatap
mata Yixing. "Tidak apa... Tenang saja." Jawabnya sambil tersenyum
dan menepuk-nepuk belakang celananya setelah Yixing membantu dia berdiri.
Cantik. Hanya 1 kata yang ada di
otak Yixing saat ia menatap wanita itu yang sudah berdiri di depannya. Apalagi
saat wanita itu memakai lagi kaca mata. Terlihat semakin cantik membuat kepala
Yixing mendekat ke wajahnya untuk memperhatikan wajah wanita itu lebih dekat.
PLAK!!
"Apa yang kau
lakukan!!???" Teriak wanita itu marah menempelkan tamparannya di wajah
tampan Yixing.
Yixing merasakan nyeri di pipinya
saat tiba-tiba wanita itu menampar pipinya. Ia meringis kesakitan sambil
mengusap-usap wajahnya.
"Eun Sil-ya!? Kau kenapa??
Kenapa kau ada disini? Kau diapakan oleh playboy brengsek itu???" Tanya Se
Ra menghentikan aksinya yang sedang meraih kerah baju Junmyeon mendengar suara
tamparan dan teriakan Eun Sil.
"Di.. Diaa.. Dia
menciumku!!" Jerit Eun Sil menunjuk Yixing kesal dan ia langsung lari
keluar ruangan meninggalkan ketiga orang yang ada didalam saling menatap
keheranan.
***
"Buahahahahaha!! Jadi kau tanpa
sadar mencium pipinya?" Junmyeon tertawa terbahak-bahak setelah mendengar
penjelasan Yixing tentang insiden tadi.
Kepala Yixing mengangguk sambil mengambil
segelas wine yang baru saja diberikan oleh pelayan rumah keluarga Kim. Setelah
pulang dari kampus Junmyeon mengajak Yixing ke rumahnya untuk menceritakan apa
yang sebenarnya terjadi. Ia tidak mau Choi Se Ra murka lagi kepadanya gara-gara
kelakuan sahabatnya tadi.
"Junmyeon, dia itu siapa?
Kenapa aku tidak tahu Se Ra mempunyai teman secantik itu?"
Tawa Junmyeon terbahak lagi.
"Kau menyukai Eun Sil?" Ia
belum bisa menghentikan tawanya.
"Jadi namanya Eun Sil?"
Kepala Junmyeon mengangguk.
"Lebih tepatnya nama dia adalah Jang Eun Sil.." Junmyeon mengatur
nafasnya gara-gara kebanyakan tertawa sebelum melanjutkan perkataanya lagi.
"Jang Eun Sil anak dari Jang Eun Mi pengasuh Choi Se Ra sejak ia masih
kecil..."
"Mwo!!??" Wine yang berada
di kerongkongan Yixing tiba-tiba tidak mau melanjutkan perjalanannya ke perut
sehingga ia menjadi terbatuk-batuk karena tersedak.
"Ne~ Jang Eun Sil yang mulai
hari ini resmi menjadi mahasiswi di universitas kita yang terkenal. Ia
mendapatkan beasiswa disana karena otak nya yang sungguh sangat jenius. Beda
dengan otak Se Ra yang sangat jongkok itu.." Beritahu Junmyeon
menepuk-nepuk pipi Yixing agar ia tersadar sambil menahan tawa.
***
"Mmhh sudah cuk.." Bibir
Yixing kembali dilumat oleh bibir sexy wanita yang sangat bernafsu sekali
terhadap bibirnya ini.
Tangan Yixing mendorong bahu wanita
ini agar segera menghentikan ciumannya. Tubuhnya terasa sakit sekali saat
wanita ini menekan tubuhnya ke dinding dipojokan koridor yang sepi. "Aku
rasa sudah cukup. Aku sedang ada urusan.." Ujar Yixing berbohong kepada
wanita yang Yixing saja tidak tahu siapa nama dia.
Ia meninggalkan wanita itu dengan
wajah yang masih sangat menginginkan bibir Yixing untuk dicium nya lagi.
Akhirnya ia bisa terlepas dari makhluk sexy itu. Ia kaget sekali tadi saat ia
jalan di koridor tiba-tiba ada yang menariknya dan langsung menciumnya.
Walaupun tadi ia sedikit terkejut setidaknya bibir wanita itu sungguh sexy saat
ada dibibirnya. Yixing tersenyum kecut mengetahui mahasiswi-mahasiswi
dikampusnya benar-benar sungguh agresif pada dirinya.
"Nona Se Ra, bagaimana
kalau.."
"Iishh Eun Sil-ya! Sudah berapa
kali kubilang mulai sekarang kau jangan memanggilku dengan kata 'Nona', panggil
aku dengan Se Ra saja, arrachi?"
"Tapi non.. Maksudku Se Ra
bagaimana kalau.."
Telinga Yixing mendengar suara
obrolan kedua wanita itu berbelok ke arah koridor yang berlawanan dengan
Yixing. Ia yakin itu suara Se Ra dan juga.. Eun Sil! Kedua kakinya langsung
berputar arah mengejar kedua wanita tadi yang sedang berargumen dengan sebuah
nama.
"Zhang Yixing! Kau
mengagetkanku!" Sontak Se Ra menghentikan langkahnya karena tiba-tiba
Yixing sudah ada didepan mereka sambil tersenyum lebar.
"Annyeonghaseyo Eun
Sil-ya~" Sapa Yixing tanpa memperdulikan Se Ra. Ia hanya menyapa ke wanita
yang tiba-tiba langsung bersembunyi di belakang Se Ra.
"Kau playboy pabo! Jangan
menggoda Eun Sil lagi, minggir kau!" Tangan Se Ra menarik tangan Eun Sil
yang langsung disambut Eun Sil agar cepat-cepat Se Ra membawa dia jauh dari
makhluk mengerikan ini. Kemudian mereka berdua berjalan dengan sangat cepat
menjauhi Yixing yang masih melambai-lambaikan tangan ke mereka sambil
berteriak.
"Jang Eun Sil! Kenalkan namaku
Zhang Yixing! Kau mau berteman denganku kan!!??"
***
Memperhatikan dan mengikuti Jang Eun
Sil adalah hobby baru bagi Zhang Yixing sekarang. Kemanapun wanita itu pergi
pasti dibelakangnya ada pria gila ini yang sedang tersenyum-senyum bahagia.
Walaupun Eun Sil sudah memasang muka
datar, dingin, judes, bagi Yixing itu tidak mempan. Menurutnya itu semua
membuat wajah Eun Sil semakin cantik dimata Yixing.
Ribuan kali sudah diusir oleh Se Ra
dan ratusan kali ditolak mentah-mentah oleh Eun Sil pun pertahanan Yixing masih
tetap kokoh. Ia tidak perduli. Bagaimanapun juga ia harus bisa mendekati Jang
Eun Sil.
Sepertinya tamparan pada awal mereka
bertemu mempunyai efek yang sangat besar bagi Yixing. Baru pertama kali dalam
hidupnya ia ditampar oleh seorang wanita. Dan senyuman andalannya pun tidak
mempan kepada wanita ini. Biasanya para wanita selalu berebut mencari perhatian
darinya. Sampai-sampai wanita yang pernah dibuang olehnya pun masih bisa
memaafkan dirinya saat melihat senyuman Yixing. Tapi kenapa Jang Eun Sil
tidak?? Itu yang membuat Yixing begitu frustasi dan sungguh sangat penasaran.
"Eun Sil-ya..."
Eun Sil bangkit dari kursinya dan
langsung meninggalkan kelas.
"Eun Sil-ya, kau mau..."
Kaki Eun Sil langsung berbelok tidak
jadi mengantri makan siang di kantin.
"Eun Sil-ya, kenapa kau.."
Bruk!! Eun Sil dengan kencang
menutup pintu toilet wanita dengan rapat.
Lagi-lagi Yixing pun hanya menghela
nafas dan berjalan menjauhi toilet wanita tanpa perduli tatapan pria-pria yang
sedang berbelok ke toilet yang seharusnya mereka masuki.
***
Gosip tentang Zhang Yixing yang
sudah tergila-gila dengan Jang Eun Sil sudah tersebar luas diseluruh kampus.
Membuat beberapa pecinta Zhang Yixing menjadi patah hati. Dan mereka pun tak
segan-segan melancarkan aksi nya untuk melampiaskan kekesalan mereka.
"Kalian mau apa?" Tanya
Eun Sil bingung saat dirinya ditarik oleh beberapa wanita cantik ke tempat yang
sangat sepi dibelakang kampus.
"Kita mau apa? Yang kita mau
adalah kau menjauhi Zhang Yixing! Yixing adalah milik kami! Kau tidak boleh
merebutnya dari kami!" Ucap wanita yang berambut ikal menjambak rambut Eun
Sil sehingga kaca mata yang Eun Sil pakai jatuh ke tanah.
"Aku tidak pernah
mendekatinya.. Aku selalu menjauhinya.." Jawab Eun Sil meringis kesakitan
karena jambakan di rambutnya semakin kencang.
Plak!
Pipi Eun Sil ditampar oleh wanita
yang satunya. "Kau pikir kami tidak buta? Kita juga tahu siapa kau
sebenarnya.. Kau adalah anak pembantu Choi Se Ra kan? Kau itu memang tidak
pantas ada disini!" Wanita itu menarik tubuh Eun Sil dan mendorongnya
jatuh ke tanah.
Air mata Eun Sil tidak tahan lagi
saat keningnya menabrak batu yang ada di tanah. Rasanya sakit sekali dan ia
bisa merasakan aliran darah yang mengalir dari keningnya.
Rasanya ia ingin membalas perbuatan
wanita-wanita yang sedang mentertawakan dirinya. Namun ia harus bisa menahan.
Ia harus ingat dengan beasiswanya disini. Dan juga ia harus ingat dengan
kebaikan keluarga Choi kepada dirinya yang sudah merawat dia sampai sebesar
ini.
"Wow wow woow sepertinya aku
mendengar namaku disebut oleh arisan para wanita disini hah?"
Kepala Eun Sil mendongak dan melihat
Yixing datang kesini sambil bersiul-siul kearah para wanita yang baru saja
membullynya. Senyuman Yixing membuat para wanita itu salah tingkah.
"Yixing-ya~ kenapa kau ada
disini?" Kata wanita yang berambut ikal sambil tersenyum dengan suara yang
dibuat-buat.
"Aku? Disini? Karena aku sedang
mencari Jang Eun Sil dan ternyata aku melihat kalian mendorong ia jatuh..
ke-ta-nah.."
Mata wanita berambut ikal itu
melebar ketakutan mendengar Yixing berdesis pelan didepan wajahnya. Ternyata
Yixing melihat apa yang mereka lakukan terhadap Eun Sil. Tanpa komando para
wanita itu serentak membubarkan diri meninggalkan Yixing dan Eun Sil yang masih
terduduk di tanah.
"Zhang Yixing lepaskan
aku!" Ronta Eun Sil saat tubuhnya diangkat oleh kedua tangan Yixing dan
menggendongnya didepan tubuh pria itu.
"Diamlah atau aku akan
memberitahu semua ini ke Choi Se Ra?" Ancam Yixing yang membuat Eun Sil
terdiam kemudian ia melangkahkan kakinya membawa Eun Sil ke ruang perawatan.
***
"Kenapa kau tidak
melawan?" Tangan Yixing terjulur membawa sebuah kapas yang sudah ditetesi
obat antiseptik dengan sebuah pinset ke arah dahi Eun Sil yang berdarah.
"Aw.." Eun Sil meringis
merasakan perih didahi nya saat kapas Yixing menekan-nekan dengan pelan.
"Kenapa kau tidak melawan
mereka?" Tanya Yixing sekali lagi karena pertanyaan tadi tidak dijawab
oleh Eun Sil.
"Aku tidak bisa..." Jawab
Eun Sil singkat.
"Wae??"
"Aku harus melindungi beasiswa
ku.."
Yixing menarik nafasnya pelan.
"Maafkan aku.."
"Kenapa kau minta maaf?"
"Ini semua gara-gara aku. Jika
saja mereka tidak tahu aku sedang mendekatimu mungkin kau tidak dalam
bahaya.."
Tidak ada yang membuka suara lagi
setelah Yixing mengatakan itu. Ia melanjutkan mengobati Eun Sil dalam diam.
Terakhir Yixing memberikan plester untuk menutupi luka Eun Sil didahinya.
"Ja, sudah selesai.. Kalau
begitu aku pergi dulu.." Ujar Yixing pelan membuka tirai yang menutupi
kasur di ruang perawatan.
Tangan Eun Sil meraih tangan Yixing
menahan pria itu melanjutkan langkahnya pergi dari situ.
"Kumohon jangan ceritakan ini
ke Se Ra atau juga Junmyeon. Aku tidak mau mereka khawatir. Aku mohon
padamu...."
***
Semenjak kejadian kemarin Eun Sil
tidak pernah melihat wajah Yixing lagi di sekitarnya. Itu membuat perasaannya
sungguh lega dan... Bosan.
Ya, bosan. Biasanya ia selalu
memutar otak mencari cara untuk menghindar dari playboy itu. Tapi sekarang?
Kehidupannya berjalan normal lagi. Belajar dikelas yang entah kenapa dia selalu
bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dibuku atau pun juga para
professor yang mengajar.
Terkadang ia menghabiskan waktunya
bersama Se Ra di kantin atau di perpustakaan. Mengajarinya anak itu tentang
mata kuliah yang hampir semua dia tidak bisa. Kalau universitas ini bukan 70%
miliknya, mungkin dia sudah di drop out karena otaknya yang begitu lemah dalam
akademis, kebalikan dari otaknya. Walaupun otak Se Ra yang seperti itu Eun Sil
masih bangga terhadap Se Ra yang sudah dianggapnya sebagai eonni nya ini. Dia
tidak pernah membedakan status kekayaan orang. Baginya mereka semua sama. Se Ra
mempunyai hati yang baik. Kepada semua orang Se Ra berbaik hati kecuali kepada
1 orang, Kim Junmyeon. Entahlah Eun Sil tidak mengerti kenapa Se Ra hanya bisa
berbuat jahat kepada 1 orang itu saja.
Seperti sekarang ini, Eun Sil sendirian
lagi karena Se Ra tengah sibuk melakukan pertarungan sengit dengan Junmyeon di
kantin hanya gara-gara nampan Se Ra tersenggol Junmyeon hingga jatuh. Lebih
baik ia menghindar dari pada menjadi korban sendok terbang disana.
Eun sil menghentikan langkahnya di
koridor sepi. Ia menatap ke sekitar. Biasanya kalau dia lagi sendiri begini
wajah Yixing sudah ada dihadapannya sambil tersenyum-senyum girang menatap
wajahnya. Tapi sekarang hanya dirinya saja berdiri sendiri disini.
"Kaing.. Kaing.."
Telinga Eun Sil seperti mendengar
suara rintihan anak anjing. Ia mengedarkan matanya dan benar saja tidak jauh
dari kakinya terlihat seekor anak anjing putih terjepit diantara besi selokan.
Kasihan sekali dia, Eun Sil segera menghampirinya dan mengangkat anak anjing
itu dengan hati-hati kedalam pelukannya. Sepertinya kakinya sedikit terluka.
"Ja, sekarang lukamu sudah
kubalut~" Ujar Eun Sil kepada anak anjing itu yang ia pangku duduk di
bangku taman kampus yang sepi. Semoga luka anak anjing itu cepat sembuh dengan
balutan saputangannya.
"Kau kenapa sendirian? Kau
tidak punya teman?" Tanya Eun Sil mengangkat anak anjing itu sejajar
dengan wajahnya. Ia bisa melihat wajah menggemaskan anjing itu.
Eun Sil mencium wajah anjing itu dan
mulai mengajaknya bicara lagi. "Kau pasti senang ada mengobati lukamu. Aku
tahu perasaanmu. Karena aku juga seperti mu kemarin, aku terluka dan ada
seseorang yang mengobati lukaku.
Tapi aku belum berterima kasih
kepada orang itu. Dia sudah menghilang sebelum aku mengucapkannya. Sepertinya dia
menghilang karena marah kepadaku. Aku selalu menghindar setiap ia mendekatiku.
Tapi aku harus.
Kau tahu? Dia sangat berbeda dariku.
Dia orang terkenal. Dan dia sahabat Junmyeon dan Se Ra. Dan aku? Hanya seorang
anak pengasuh. Aku tidak mau dibilang melunjak. Kelurga Choi sudah baik
sekali mau membiayai sekolahku sampai sejauh ini.
Sebetulnya setiap dia ada
disekitarku aku senang sekali. Tapi gara-gara dia menciumku saat pertama kali
ketemu jantungku selalu berdebar setiap melihat wajahnya. Itu yang membuat
kenapa aku selalu bersembunyi dari nya. Lagipula dia itu seorang yang playboy,
selalu pintar memainkan hati wanita. Aku juga tidak mau tertipu olehnya.
Apalagi aku ini hanya anak seorang pengasuh, bagaimana mungkin dia menyukaiku.
Aku dengannya sangat berbeda. Ya kan?"
"Siapa bilang kita
berbeda?"
Ada sebuah tangan terjulur dan
memeluk leher Eun Sil dari belakang. Membuat Eun Sil terkejut dan hampir saja
ia menjatuhkan anak anjing ini.
Eun Sil bisa melihat dari sudut
matanya rambut hitam Yixing sudah menyentuh pipinya.
"Siapa bilang aku pintar
memainkan hati wanita? Justru kau yang pintar memainkan hatiku seperti
ini..."
"Zhang Yixing lepaskan
tanganmu.." Ucap Eun Sil pelan mencoba melepaskan tangan Yixing yang
melingkar dilehernya namun dekapannya semakin kuat sehingga Eun Sil tidak bisa
melepaskan tangannya.
"Jang Eun Sil, kenapa kau
selalu menutupi perasaanmu? Kau tidak boleh merasa seperti ini hanya karena
statusmu dengan keluarga Choi.."
"Bagaimana kau tahu?"
"Kau tidak sadar sejak tadi aku
dibelakangmu? Dan kau juga tidak sadar selama ini aku tidak menghilang? Aku
selalu memperhatikanmu dari jauh. Aku tidak mau kau tertimpa bahaya lagi hanya
gara-gara ulahku.."
"Kenapa kau melakukan semua
ini?"
Kepala Yixing menggeleng dibahu Eun
Sil. "Entahlah, semenjak aku bertemu denganmu aku tidak bisa mengontrol
diriku. Semakin kau menghindariku semakin aku ingin mendekatimu. Betapa aku
sangat ingin kau berada disampingku, menjagamu agar kau tidak terluka.
Membuatmu tersenyum agar kau tidak merasa kesepian.."
"Eun Sil-ya.. Apa perasaan ini
adalah cinta?"
Jantung Eun Sil berdebar sangat
kencang. Ia juga tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan saat ini.
***
"Mwo!!? Undangan pernikahan mu
dengan Se Ra?" Mata Yixing hampir keluar melihat amplop tipis berdesign
indah dan sangat mewah yang berada ditangannya. Ia tidak bisa menahan tawanya
lagi.
"Hahahahahaha! Bagaimana ini
bisa terjadi??? Benarkan tebakanku selama ini kalian memang saling
mencintai!"
"Diam kau, ini semua gara-gara
perjanjian yang dibuat oleh kakekku dan nenek nya sewaktu mereka masih muda.
Kalau aku tidak cepat menikah dengannya, kau tidak bisa meminjam pesawat
pribadiku lagi untuk pulang ke China, kau tidak bisa meminjam cottage ku supaya
kau bisa party dengan teman-teman wanita bule mu dan kau tidak.."
"Ya ya! Kenapa kau membawa-bawa
aku!!??"
"Karena kalau aku tidak menikah
dengannya aku akan kehilangan itu semua! Dan Se Ra juga tidak mendapatkan
apa-apa dari semua miliknya saat ini. Kita berdua merasa terjepit. Tidak ada
pilihan lain.."
Yixing menepuk bahu Junmyeon yang
ada disampingnya. "Sebetulnya aku tidak butuh dengan yang kau sebutkan itu
lagi..."
"Maksudmu? Kau tidak butuh
pulang ke China dan kau tidak mau party lagi?"
Kepala Yixing mengangguk sambil
tersenyum lebar. "Benar! Saat ini aku mau tinggal lebih lama di Korea dan
aku tidak ada nafsu lagi bermain-main dengan para bule itu.."
Junmyeon mengangkat sebelah alisnya.
"Apakah Jang Eun Sil telah sukses merubah sahabatku yang playboy akut dan
tidak bisa tersembuhkan ini menjadi pria yang normal???"
Cengiran di bibir Yixing sangat
lebar sekali menjawab pertanyaan Junmyeon.
"Tapi kau tetap nanti
memerlukan pesawat pribadiku untuk bertemu dengannya di..."
"Jamkkanman..." Yixing
memotong ucapan Junmyeon dan segera mengangkat panggilan manager hyung dari
ponselnya.
"Ne, aku sudah membuat
lagu-lagu itu. Besok aku akan membawanya."
Yixing mematikan ponselnya dan
menoleh ke arah Junmyeon lagi. "Baiklah, aku yang akan memainkan piano
untuk lagu pernikahanmu sebagai hadiah dari sahabatmu ini.."
***
Penampilan Yixing sudah sangat
sempurna untuk datang ke pernikahan sahabatnya. Memakai setelan jas hitam dan
dipadu syal berwarna cokelat yang tergantung di lehernya. Ia sudah siap menjadi
pianis di acara pernikahan nanti.
Tangan Yixing masih sibuk
mengotak-atik komputer memasukkan semua lagu-lagu baru ciptaannya kedalam
sebuah cd. Ia akan memberikan ini kepada Eun Sil. Memberikan kepada seseorang
yang telah mengisi hati nya sehingga ide di otaknya mengalir dengan cepat
membuat semua lagu-lagu ini. Betapa jeniusnya dia.
***
Yixing berdiri dari bangku piano nya
dan bertepuk tangan saat melihat kedua pengantin berciuman di depan pastur dan
didepan para penonton. Berdiri disamping seperti ini jadi bisa melihat apa yang
terjadi didepan sini. Yixing menahan tawanya melihat pasangan pengantin itu
sebetulnya tidak berciuman, tapi hanya menabrakan bibirnya saja.
Mata Yixing melirik ke tempat
pendamping pengantin wanita. Disana Eun Sil terlihat cantik sekali memakai gaun
putih selutut dan rambutnya dihiasi dengan mahkota bunga. Wajahnya tidak
terlepas dari senyuman kebahagiaan melihat Se Ra sedang berbahagia menjadi
seorang pengantin.
Merasa sedang diperhatikan Eun Sil
melirik ke arah piano, ia menyunggingkan senyumnya kepada pianis yang sedang berdiri
disana menatapnya sambil tersenyum bahagia.
"Eun Sil-ya, bisa ikut aku
sebentar?" Yixing menarik tangan Eun Sil menjauh dari kerumunan para tamu
yang sedang mengobrol.
Kaki Eun Sil dengan pasrah mengikuti
kemana kaki Yixing membawanya. Pria itu berhenti dibawah pepohonan rindang
disamping pantai tidak jauh dari altar pernikahan. Pernikahan ini memang
digelar di pinggir pantai milik pribadi keluarga Choi.
"Ada yang ingin aku
bicarakan!"
Mata mereka saling menatap mendengar
mereka mengucapkan kata yang sama pada saat bersamaan.
Yixing mendenguskan tawanya
mentertawakan suatu yang kebetulan ini. "Silahkan kau duluan.."
"Tidak, kau duluan saja. Kau
yang membawaku kesini.."
Yixing menarik nafasnya sebentar
sebelum ia mengucapkan sesuatu yang sangat penting ini. Dan ia merogoh saku
jasnya mengambil cd yang telah ia bungkus dengan kertas pink dan berpita.
"Ini untukmu. Itu semua
lagu-lagu yang aku ciptakan. Semenjak aku bertemu denganmu entah kenapa
lagu-lagu cinta yang tadinya kukira sulit dibuat menjadi sangat mudah.
Sepertinya aku sudah merasakan
seperti apa itu rasanya cinta. Karena aku mencintaimu Eun Sil-ya. Apa kau mau
menerima cintaku?"
Jantung Eun Sil berdebar sangat
kencang saat ia menerima cd yang Yixing berikan untuknya. Ia menatap mata pria
itu. Matanya sangat serius saat ia mengucapkan itu semua. Eun Sil ingin
menemukan tatapan gurauan dimatanya, tapi ia tidak dapat menemukan itu.
"Sebelum aku menjawab
pertanyaanmu. Aku ingin mengatakan sesuatu untukmu.." Gantian Eun Sil
menarik nafasnya sebelum ia melanjutkan lagi. "Bulan depan aku akan
meninggalkan Korea..."
"Kau mau kemana???" Potong
Yixing dengan cepat.
Eun Sil menarik nafasnya lagi.
"Aku akan pindah ke London. Oxford menerima beasiswaku menjadi murid
disana.."
Tidak tahu harus merasa seperti apa,
Yixing langsung memeluk erat Eun Sil kedalam dekapannya. "Aku tidak ingin
berpisah darimu. Aku ingin kau selalu disampingku. Tapi aku sangat bahagia
dengan kabar ini. Kau akan menjadi orang hebat disana. Haruskah aku rela
melepaskanmu?" Ucap Yixing pelan membenamkan wajahnya dikepala Eun Sil.
Pengorbanan
diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti,
patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut. Itu adalah
arti Cinta.
"Memangnya kau keberatan jika
menemuiku di London? Bukannya Junmyeon selalu meminjamkan pesawatnya kepadamu?
Memangnya kau tidak mau menjual lagu-lagu mu sampai ke eropa? Dan memangnya kau
rela membuatku selalu merindukan mu disana??"
Yixing mengangkat wajahnya dari
kepala Eun Sil saat mendengar ucapan terakhir wanita itu. Ia menatap wajah Eun
Sil "coba kau ulang pertanyaanmu yang terakhir.." Pinta Yixing
menatap lekat mata Eun Sil.
"Apa kau rela membuatku selalu
merindukanmu disana?" Jawab Eun Sil lagi dengan menekankan setiap kata.
Yixing mendenguskan tawanya dan
tersenyum melihat Eun Sil mengucapkan semua perkataan itu. "Apa itu
berarti kau menerima cintaku?" Tanyanya dengan hati-hati.
Kepala Eun Sil mengangguk.
"Bukankah hanya cinta yang bisa membuat seseorang bisa merasakan
rindu?"
Senyuman di bibir Eun Sil membuat
Yixing tidak tahan lagi untuk menyentuh bibir itu. Dengan perlahan Yixing
mencium bibir Eun Sil dengan segala perasaan. Ciuman kali ini sangat berbeda
seperti yang biasa ia lakukan. Ini baru pertama kalinya Yixing merasakan betapa
manisnya bibir seorang wanita. Ia ingin melumat bibir ini dengan kasih sayang.
Tidak ingin menyakitinya karena ia ingin terus mencium bibir ini lagi dan lagi.
Betapa nyamannya perasaan hati Yixing saat menciumnya. Karena cinta Yixing jadi
merasakan semua ini.
Jadi, apa itu arti cinta? Sepertinya
Yixing bisa menjawab pertanyaan itu dengan banyak sekali jawaban sampai-sampai
ia butuh banyak lembaran kertas untuk menulisnya.
Tamat.
Next:
Baekhyun’s Story - Lucky
0 komentar:
Post a Comment