Title: [Luhan’s Story] The Story of EXO – Angel
Author: Monie Akakuro
Contact Author: Twitter @Jonghyunaaa
Panjang Cerita: 3.742 words
Main Cast:
– Luhan EXO
– Lee Haru (OC)
Other Cast:
- Baekhyun EXO (Cameo)
Genre: Sad, Romance
Rating: PG – 15
Disclaimer:
As always ide ngambil dari lagu nya.
Cuman agak bingung ini nyelipin power nya Luhan yang bisa ngendaliin pikiran /
telekinesis. Yah jadilah seperti ini kkkk
Note:
Yeheeeyyy story yang ke 3 dari The Story of EXO~ jgn
lupa perhatiin setiap cameo yang muncul! :D
****
Suasana di Incheon Airport seperti
biasa selalu ramai walaupun ini sudah hampir tengah malam. Luhan melangkahkan
kakinya keluar dari pintu 'Arrival' setelah ia mengambil koper dan mengurus
paspornya.
Akhirnya ia kembali lagi ke Seoul
setelah 6 bulan berada di Beijing. Kota yang selalu ia rindukan. Karena ia
meninggalkan setengah hatinya disini.
Lee Haru, wanita yang sudah 5 tahun
menjadi kekasihnya. Ia mengenal Haru semenjak di bangku SMA. Ketika ia menjadi
salah satu peserta pertukaran pelajar dari China untuk Korea Selatan. Luhan
mendapat sekolah international dimana Haru yang keturunan Jepang - Korea juga
sekolah disini. Dan mereka berdua juga masuk ke universitas yang sama. Seoul
Art University. Tapi sekarang Luhan meneruskan kuliahnya kembali ke China.
Biasanya Luhan selalu melihat wajah
Haru sedang menunggu dirinya didepan pintu arrival setiap ia kembali ke Korea
tapi sekarang tidak ada yang menyambutnya. Luhan memang sengaja datang hari ini
tanpa memberi tahu Haru. Karena ia tidak mau mengganggu wanita itu latihan
Biola. Besok malam dia akan melakukan pertunjukan pertamanya. Maka
itulah alasan kenapa Luhan datang kembali ke Korea.
Luhan menatap dengan bingung saat
jalan sepanjang pintu arrival. Sudah penuh sekali dengan orang-orang. Ada
beberapa dari mereka membawa kamera dan juga banner.
EXO I LOVE U! Wu Yifan Wo Ai Ni!
Luhan membaca beberapa tulisan yang
dipegang oleh anak-anak perempuan sambil berteriak seperti yang tertulis di
banner nya. EXO? Wu Yifan? Siapa mereka? Mungkin mereka artis yang baru saja
datang kesini.
Buk!
Ada seseorang yang menabrak dirinya
sehingga pegangan kopernya terlepas dari tangan Luhan.
"Ah mian! Aku tidak
sengaja!" Seorang pria yang menabrak Luhan tadi memungut kopernya dan
langsung memberikan kepadanya. Ia membungkuk lagi meminta maaf karena sudah
bersalah menabrak Luhan. Sebetulnya bukan salah pria itu juga. Dirinya juga
jalan tanpa melihat kedepan, malah asyik membaca banner-banner disampingnya.
"Baekhyun-a!! Cepatlah! Nanti
aku tidak bisa melihat Wu Yifan!!"
Seorang wanita dibelakang Luhan
berteriak ke arah pria ini. Pria yang bernama Baekhyun sedang sibuk membetulkan
koper Luhan yang jatuh.
"Sebentar! Kau tidak lihat tadi
aku jatuh!?" Balas pria ini kepada teman wanitanya.
"Sudah tidak apa-apa..."
Ujar Luhan mengambil koper nya lagi.
"Sekali lagi maafkan aku!"
Pria itu membungkuk meminta maaf dan bergegas pergi menyusul teman wanita nya
tadi yang sudah menghilang entah kemana.
Luhan menyunggingkan senyumnya
memperhatikan pria tadi yang sudah berlari menjauh darinya. Pria itu seperti
orang-orang yang berkumpul disini? Karena dia memakai baju yang sama dengan
mereka. Sudah tengah malam tapi masih saja semangat ke airport hanya untuk
bertemu dengan artis idola.
**
Di depan airport Luhan duduk diatas
kopernya sambil termangu. Ia sedang memikirkan harus kemana dia selanjutnya.
Apakah dia menemui Haru di apartemen atau dia ke hotel yang sudah dia pesan?
Tapi saat ini ia sudah sangat
merindukan Haru. Hati nya seperti menjawab pertanyaan di otaknya. Ia akan
langsung menemui wanita itu. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan untuk
Haru.
Luhan berdiri dan meregangkan
tubuhnya. Sekarang yang ia butuhkan adalah taxi. Namun sejak tadi ia tidak
melihat satupun taxi yang lewat dijalan ini. Biasanya selalu banyak taxi kosong
yang terparkir disini.
Suara berisik keluar dari pintu
airport. Sepertinya artis yang sudah ditunggu orang-orang didalam tadi sudah
keluar. Banyak orang bergerombol mengerubungi beberapa pria yang sedang jalan
menuju mobil yang sudah terparkir didepan.
Luhan melihat ada seorang gadis
kecil ikut-ikutan mengerubungi artis itu. Gadis kecil itu memegang baju gadis
yang lebih tua didepannya agar ia tidak terlepas. Apakah itu kakaknya?
Ketakutan gadis kecil itu sama
dengan yang Luhan takutkan. Benar saja tangan gadis kecil itu terlepas dari
pegangan kakaknya. Tubuh kecilnya terdorong-dorong dengan orang-orang dijalanan
ingin melihat artis yang datang tadi.
Gadis kecil itu semakin terdorong ke
jalanan. Tak ada yang memperhatikan dibelakang mobil artis yang terparkir itu
ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang. Dengan cepat Luhan berlari
meninggalkan kopernya menuju gadis kecil yang terdorong tadi, kalau tidak gadis
kecil itu akan tertabrak mobil yang melaju ke arahnya.
Luhan's Story: Angel
Mata Luhan terus memperhatikan wajah
Haru yang sedang tertidur disampingnya. Wajah yang sudah ia rindukan selama 6
bulan ini sekarang sudah ada dihadapannya. Ia langsung memeluk tubuh Haru
dengan sayang kedalam dekapannya.
"Kau belum tidur?" Tanya
Luhan saat merasakan Haru mengeratkan pelukannya.
Kepala Haru menggeleng didada Luhan.
"Aku belum bisa tidur. Jantungku terus berdebar mengingat pertunjukanku
akan diadakan besok malam."
Luhan mengecup kepala Haru untuk
mengurangi rasa kekhawatirannya. "Tidurlah.. Kau butuh istirahat"
Merasakan kecupan Luhan dikepalanya
membuat ada rasa nyaman di hati Haru. Untung saja ada Luhan disini bersamanya
agar dia bisa tenang sebelum pertunjukan. Dia kaget sekali tadi di depan pintu
apartemennya Luhan sudah datang dari China. Ia pikir baru besok Luhan akan
datang. "Luhan, terima kasih kau sudah datang malam ini. Ada kau disini
membuatku sedikit menjadi lebih tenang.." Haru membenamkan wajahnya ke
dada Luhan.
"Jadi sekarang kau harus tidur.
Aku sudah ada disini menemanimu.." Luhan berkata pelan masih terus memeluk
Haru. Suara pelan Luhan yang hampir berbisik dan tepukan pelan tangan Luhan di
punggung Haru menyuruhnya tidur membuat Haru langsung diselimuti rasa kantuk.
Dengan sekejap Haru pun tertidur pulas didalam pelukan Luhan.
***
Lebih baik aku memakai baju warna
apa ya? Luhan suka tidak kalau aku memakai baju warna putih ini?
"Baju yang warna putih itu
bagus, aku suka"
Kepala Haru langsung menoleh ke arah
Luhan yang sedang duduk diatas tempat tidurnya sambil menunjuk ke arah baju
putih yang sedang Haru pegang didalam lemari pakaian. Dia tahu saja aku sedang
bingung memilih, batin Haru.
"Jadi yang ini lebih
bagus?" Haru mengambil baju putih yang digantung dari dalam lemari. Ia
memperlihatkan baju itu didepan dadanya ke arah Luhan agar ia bisa menilai.
Luhan menjawab dengan anggukannya sambil tersenyum.
"Ok, ini yang akan
kupakai" Haru membawa baju itu ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
**
"Bagaimana kuliah mu
disana?" Haru mematikan kompornya setelah air dipanci sudah mendidih.
"Kuliah ku...." Mata Luhan
melihat panci air panas yang sedang dipegang Haru tergelincir dari jemarinya.
Panci itu terjatuh dengan gerakan yang sangat lambat sehingga dengan cepat
Luhan bisa langsung menangkapnya dengan mudah.
".... Sedikit lagi sudah masuk
ujian" Lanjut Luhan menyelesaikan perkataannya. Ia meletakkan panci berisi
air panas itu ke meja.
Haru kaget saat panci tadi terlepas
dari pegangannya. Dan ia sedikit bingung kenapa Luhan bisa cepat sekali berada
disampingnya dan bisa mengambil panci itu.
"Kau harus lebih berhati-hati,
bagaimana kalau air panas tadi terkena tanganmu? Tanganmu itu sangat berharga
sekali" Luhan menjitak pelan kepala Haru.
Lidah Haru sedikit menjulur keluar
mendengar Luhan menasihati dia karena kecerobohannya. Untung saja tadi Luhan
cepat menolongnya, kalau tidak, ia tidak bisa membayangkan bagaimana
pertunjukan dia nanti jika tangannya terkena air panas.
"Gomawo~ ayo kita makan diluar
saja, aku juga ingin jalan-jalan denganmu!" Haru memeluk Luhan karena ia
merasa bersalah gara-gara kecerobohannya.
"Kaja!" Seru Luhan
menggandeng pinggang Haru setelah mencium pipi wanita itu.
***
"Sudah berapa kali ku bilang
kau harus hati-hati??" Luhan menarik tangan Haru saat kakinya hampir masuk
kedalam lubang di jalan.
Kalau Luhan tidak menarik tangannya
mungkin Haru tidak tahu didepannya ada lubang. Sedikit lagi pasti ia akan jatuh
tersungkur dijalanan. Betapa memalukannya itu dan pasti akan sangat sakit
sekali.
"Lagi-lagi kau menolongku.
Kenapa aku hari ini sangat ceroboh sekali sih?" Haru menjitak kepalanya
sendri sebelum Luhan yang melakukan. Mungkin dia masih belum bisa menghilangkan
rasa gugupnya untuk nanti malam. Makanya pikiran dia tidak terfokus dengan
benar.
Haru melingkarkan lengannya di
lengan Luhan agar dia bisa berjalan dengan baik sekarang. Luhan akan menjaga
dirinya supaya dia terhindar dari lubang lagi.
"Kau mau pesan apa?" Tanya
Haru sambil membolak-balikan lembaran menu di tangannya.
"Ne?" Jawab pelayan yang
berdiri disamping Haru. Tangan nya sudah siap mencatat apa yang akan dipesan.
"Oh belum.." Haru
menggelengkan kepalanya ke pelayan itu yang mengira tadi ia bertanya kepadanya.
"Kau mau makan apa?" Tanya
Haru lagi ke arah Luhan yang duduk didepannya.
"Aku sama denganmu saja"
Jawab Luhan sambil tersenyum menatap Haru.
Kalau jawabannya begini Haru semakin
bingung ia harus memilih yang mana. Dia pikir akan makan seperti yang Luhan
pilih, tapi Luhan malah tergantung padanya.
"Baiklah aku pesan 2
Bulgogi" Kata Haru akhirnya dia memilih makanan yang akan dipesan.
Dengan cepat pelayan itu mencatat
pesanan Haru. "Bulgogi.... 2?" Ulang pelayan sekali lagi dengan agak
sedikit bingung.
"Iya 2..."
"Bilang aku tidak mau
pedas.." Luhan mencondongkan tubuhnya memberitahu Haru.
"Pedas atau tidak?" Tanya
pelayan itu lagi.
"Tidak" Jawab Haru
menggeleng. Baru berapa detik Luhan bilang ia tidak mau pedas, pelayan itu
sudah langsung bertanya.
"Baik, kidari juseyo" Kata
si pelayan setelah mencatat pesanan Haru. Dan ia kembali lagi ke belakang.
Haru menghelakan nafasnya panjang.
Sambil menyapu pandangannya didalam restoran ini. Hanya beberapa pelanggan saja
yang sedang makan disini termasuk dirinya dan Luhan. Sudah lama ia tidak makan
disini semenjak Luhan melanjutkan kuliahnya di China. Dulu setiap pulang
sekolah hampir setiap hari ia makan kesini. Karena mereka berdua tinggal
sendirian di Korea tanpa orang tua jadi mereka tidak tahu harus makan dengan
apa. Dan Luhan mengajaknya ke restoran ini. Dia bilang makanan disini enak
seperti makanan rumah dan harganya pun terjangkau untuk kantong anak sekolah.
"Ada apa?" Tanya Haru saat
melihat Luhan terus menatapnya semenjak tadi.
Luhan menggeleng tanpa menghilangkan
senyuman di wajahnya. "Tidak... Aku hanya senang melihat wajahmu
lagi"
Kata-kata Luhan terdengar gombal
sekali. Haru mendenguskan tawanya. "Kau rindu sekali denganku ya? Kalau
begitu kau tidak boleh kembali lagi ke China, tetaplah kau bersama denganku
disini.."
Luhan tertawa pelan mendengar ucapan
Haru. Ia memang ingin sekali tinggal bersama Haru. Tapi ia tidak bisa.
"Aku akan selalu denganmu.." Jawab Luhan.
Senyuman Luhan ke arahnya membuat
hati Haru benar-benar merasa nyaman melihatnya. Ini yang dia butuhkan sekarang.
Bersama Luhan yang selalu menenangkan hati dan juga pikirannya.
"Bagaimana kalau abis ini kita
ke Lotte World!?" Cetus Haru bersemangat. Ia ingin sekali kesana bersama
Luhan.
"Lotte World? Haru, kau bukan
anak kecil lagi.. Lagipula tinggal beberapa jam lagi pertunjukan mu akan
dimulai" Jawab Luhan mengingatkan Haru.
Seperti biasa perkataan Luhan selalu
seperti orang tua di telinga Haru. Dan seperti biasa juga Haru bersikap seperti
anak kecil ke Luhan. "Ya? Ke Lotte World? Kita sudah lama tidak kesana
kan? Aku ingin bermain-main sebentar denganmu. Bebaskan aku dari rasa gugup ini
untuk pertunjukan nanti.."
"Baiklah.." Luhan
mengangguk menyetujui permintaan Haru. Mau bagaimana lagi, jika Haru sudah
merengek seperti ini dia tidak akan berhenti sampai ia mengangguk setuju.
***
"Mana lama sekali bus nya"
Haru mencondongkan badannya lagi melihat dari kejauhan belum nampak juga bus
yang akan membawa mereka ke Lotte World.
"Bersabarlah.." Ujar Luhan
menyenderkan punggungnya di bangku halte. Hanya dia berdua yang menunggu bus
disini.
Cuaca begitu cerah dan matahari
bersinar sangat terik pagi ini walaupun sekarang sudah musim dingin. Waktu yang
sangat pas sekali ia menghabiskan waktunya bersama Luhan.
"Kau ingat tidak sehabis pulang
sekolah kita juga duduk disini menunggu bus mau bermain kesana juga? Aku rindu
sekali saat-saat seperti itu" Haru menoleh memandang Luhan yang duduk
disampingnya.
Senyuman Luhan masih terus menghiasi
wajahnya setiap menatap Haru. "Tentu saja, seperti sekarang ini kau
memaksaku bermain disana.."
"Jadi selama ini kau tidak
suka?" Gumam Haru sedih mendengar dia sepertinya selalu memaksa Luhan.
"Tidak... Tapi aku akan menjadi
sangat bahagia jika sudah disana melihat mu tertawa bahagia"
Tangan Haru merangkul ke leher Luhan
mendengar pria itu berkata gombal lagi kepadanya. Ia menidurkan kepalanya di
bahu Luhan sambil tertawa pelan. Walaupun terdengar gombal tapi Haru tetap
suka.
Nyaman sekali memeluk Luhan seperti
ini. Haru memejamkan matanya sebentar menikmati perasaannya seperti dulu yang
ia lalui bersama Luhan di halte ini.
"Ayo bus nya sudah datang"
Luhan menepuk pelan pipi Haru agar ia terbangun.
Keduanya berdiri bersiap saat bus
itu datang.
"Tolong tunggu sebentar!!"
Haru mendengar suara teriakan
seseorang saat menginjakan kakinya di tangga bus. Ia melihat 2 orang
pelajar yang masih memakai seragam sekolah berlari kencang menuju ke arah bus.
"Ajussi tolong tunggu
sebentar.." Pinta Haru kepada supir bus agar dia tidak menjalankan bus nya
sampai kedua pelajar itu naik.
Haru melangkahkan kakinya lagi naik
kedalam bus ketika kedua pelajar itu sudah ada dibelakangnya. Luhan sudah
berada didalam saat Haru menempelkan kartu transportnya didekat duduk supir. Ia
segera menghampiri Luhan dan berdiri disampingnya karena tempat duduk sudah
penuh semua.
Kedua pelajar itu juga berjalan
mendekati arah Haru berdiri. Sambil terengah pelajar perempuan itu menjitak
kepala teman laki-laki nya sambil mengomel. Haru langsung menahan tawa melihat
kedua pelajar itu.
"Kau disebelah sini.."
Luhan menarik tangan Haru menukar posisinya berdiri tidak disamping pelajar
anak laki-laki itu lagi.
Secara tiba-tiba bus mengerem
mendadak berhenti karena lampu merah. Dengan cepat badan Haru sudah ditangkap
ke pelukan Luhan agar ia tidak terjatuh.
"Pabo!! Baekhyun kenapa kau
bodoh sekali! Sudah kubilangkan kau jangan beli minum, jadi tumpah begini
kan??!"
Haru melihat pelajar wanita itu
melayangkan jitakan bertubi-tubi ke pelajar laki-laki yang ia panggil Baekhyun
tadi. Minuman yang dipegang anak laki-laki itu tumpah berantakan didekat kaki
Luhan. Hampir saja ia yang menjadi korban, kalau saja Luhan tidak bertukar
posisi dengannya mungkin baju putihnya sudah merah terkena noda minuman itu.
"Tadi aku haus sekali!"
Balas pelajar laki-laki itu tak kalah berteriak ke temannya.
"Mianhe ajumma" Anak
laki-laki itu meminta maaf ke wanita tua yang duduk didepannya.
"Mianhe noona, untung kau
berdiri jauh kalau tidak baju putihmu pasti kotor" Ucap anak itu meminta
maaf ke Haru. Tanpa memperdulikan Luhan yang tepat berada di depannya. Byun
Baekhyun. Haru melihat lencana namanya tersemat di seragam sekolahnya. Dia terus
membungkuk meminta maaf ke Haru. Dan lagi-lagi dia dimarahi oleh temannya yang
sedang mengeluarkan beberapa tissue membersihkan cairan yang bertebaran
dilantai bus.
****
"Aku mau naik itu! Itu! Dan
itu!!" Teriak Haru menarik tangan Luhan ketika mereka sudah masuk kedalam
Lotte World. Wajah Haru sangat sumringah sekali sudah berada disini.
Dengan pasrah Luhan mengikuti kemana
Haru membawa dia menaiki semua wahana yang diinginkannya.
Betapa bahagianya Haru sekarang.
Kini perasaan nervous nya hilang seketika. Pikiran dan hatinya sudah refresh
kembali setelah ia bermain dengan Luhan. Ia sudah sangat siap untuk pertunjukan
nanti malam.
"Haru..."
Haru menolehkan pandangannya dari
pemandangan kota Seoul yang ia lihat dari ketinggian didalam wahana kincir angin
ke arah Luhan yang duduk didepannya. Baru kali ini sebetulnya dia mau
naik kincir angin. Haru tahu Luhan sangat takut ketinggian. Tapi dia mau saja
diajak naik olehnya. Mungkin sekarang phobia tinggi Luhan sudah berkurang.
"Ne?" Haru pindah duduknya
kesamping Luhan. Kepalanya ia letakkan lagi dibahu pria itu dan memeluk
lengannya. Rasa kenyamanan kembali menyelimuti Haru lagi.
"Bagaimana perasaan mu? Sudah
tidak gugup lagi?" Jemari Luhan mengusap pelan kepala Haru yang ada
dibahunya.
Kepala Haru menggeleng. "Tidak.
Sekarang aku sangat bahagia sekali. Seharian ini kau sudah menemaniku. Jadi aku
sudah lebih siap untuk pertunjukan nanti malam."
Haru bisa mendengar Luhan
menghelakan nafasnya. Sepertinya Luhan jadi merasa tenang dirinya sudah siap
untuk pertunjukan nanti malam.
"Haru.." Panggil Luhan
lagi dengan pelan.
"Hm?" Jawab Haru
memejamkan matanya. Ia lihat posisi mereka sekarang masih berada diatas. Jadi
ia bisa tiduran dibahu Luhan sampai turun nanti.
"Setelah pertunjukan ini apa
rencanamu selanjutnya?"
"Rencanaku? Mmhh... Jika
pertunjukan ini sukses, aku bisa mendapatkan beasiswa ke Juilliard. Itu
impianku."
"Apakah kau bahagia dengan
impianmu nanti?"
"Tentu saja, menjadi pemain
biola yang terbaik adalah impianku.."
"Jadi kalau kau masuk kesana
aku tidak usah berkunjung ke Korea lagi? Aku langsung menemui mu di New
York.."
"Aku akan selalu menunggumu
dimanapun aku berada"
"Kalau kau? Rencanamu
apa?"
"Aku? Rencanaku hanya satu.
Selalu membuatmu tersenyum bahagia.."
Tangan Haru langsung memeluk
pinggang Luhan dengan erat. Ia terkekeh pelan. Pria ini sekarang benar-benar
jago sekali bergombal. Haru semakin mencintai pria ini. Ia tidak mau berpisah
dengan Luhan. Haru sangat menyayanginya.
***
"Aku mengantarmu sampai sini.
Kau harus memberikan penampilanmu yang terbaik nanti.." Ucap Luhan ketika
mereka sampai didepan gedung concert hall tempat pertunjukan permainan biola
Haru nanti malam.
Haru menghentikan kakinya menaiki
undakan tangga dan berbalik ke arah Luhan. Rasanya ia tidak ingin menaiki
undakan tangga keatas lagi. Ia ingin disini. Bersama Luhan. Ia belum mau
berpisah dengannya.
Kenapa perasaannya menjadi seperti
ini? Masih belum rela Luhan meninggalkan dirinya disini. Padahal nanti setelah
pertunjukan pun dia bisa kembali bersama Luhan lagi.
"Baiklah. Aku mau persiapan
dulu didalam. Awas kau tidak boleh telat melihat penampilan ku!" Ujar Haru
akhirnya.
Luhan hanya mengangguk dan tersenyum
menatap Haru. Dengan perlahan Luhan menarik tangannya yang sejak tadi digandeng
Haru.
Dengan berat hati Haru melepaskan
tangan Luhan dari genggamannya. Tangannya masih terjulur walaupun Luhan sudah
melangkah mundur akan beranjak pergi.
"Masuklah. Berikan yang terbaik
untukku.." Ujar Luhan pelan menyuruh Haru yang belum beranjak dari
tempatnya.
Haru menarik nafasnya kemudian ia
berjalan mendekati Luhan dan langsung memeluknya erat. "Hari ini terima
kasih.. Pertunjukan ini kupersembahkan untukmu" Ucap Haru semakin
mengeratkan pelukannya tanpa ingin melepaskan dirinya dari tubuh Luhan yang
selalu merasakan kenyamanan didalam dekapannya.
***
Suara tepuk tangan langsung
terdengar saat Haru keluar dari tirai dibelakang panggung. Ia menenteng
biolanya dan berjalan dengan sedikit gugup ke tengah panggung. Lampu sorot
secara otomatis mengarah kepadanya. Dari ratusan penonton yang hadir akhirnya
Haru bisa menemukan orang yang ingin sekali ia lihat. Luhan duduk ditempat yang
sudah khusus Haru siapkan untuknya. Ia masih memakai sweater biru yang dia
pakai sejak tadi. Senyuman Luhan disana membuat hati Haru semakin siap.
Tak ada lagi suara tepuk tangan
penonton. Sunyi. Hanya suara alunan merdu dari biola yang Haru mainkan.
Semua orang fokus pada permainan Haru yang sangat memukau.
Ini adalah penampilan Haru yang
paling sempurna. Hadirnya Luhan disini membuatnya begitu percaya diri. Tidak
ada lagi rasa gugup dan ketegangan dihatinya.
Luhan, terima kasih. Kau adalah
malaikat kekuatanku.
Haru membungkukan badannya ketika ia
selesai menampilkan pertunjukkannya. Ia masih bisa melihat Luhan tersenyum
lebar menatap dirinya disana.
***
"Haru!!! Chukkae!!! Pertunjukan
mu tadi sangat sempurna!!" Park seonsaengnim langsung memeluk Haru begitu
ia masuk kebelakang panggung. Disana guru dan teman-temannya sudah menunggu dan
memberinya selamat. Dengan ini sepertinya jalur Haru untuk mendapatkan beasiswa
ke Juilliard akan terbuka lebar.
"Haru selamat! Kau tadi sungguh
luar biasa sekali". Sekyung teman Haru semenjak sekolah datang memeluknya
memberi selamat. Ia melihat Sekyung datang dengan 2 orang pria yang tidak
pernah ia lihat sebelumnya. Siapa mereka?
"Sekyung terima kasih.."
Jawab Haru setelah Sekyung melepaskan pelukannya.
Kini ia bisa melihat wajah Sekyung
dengan jelas. Mata dia kenapa sembab sekali? Memangnya tadi penampilan dia
sangat luar biasa sampai-sampai Sekyung menangis seperti itu? Haru heran
sekali.
"Haru.." Ucap Sekyung
dengan suara tertahan. Ia menarik nafasnya sebelum ia memberitahu suatu hal
kepadanya.
Haru menatap Sekyung dengan bingung.
Ada apa? Kenapa Sekyung sepertinya sedih sekali menatap dirinya.
"Haru..." Sekyung memeluk
Haru lagi. Ia bisa mendengar Sekyung menangis di bahunya.
"Sekyung ada apa?" Tanya
Haru heran.
"Haru kumohon kau jangan kaget
mendengar ini.." Sekyung mulai terisak.
"Mendengar apa?" Haru
semakin tidak mengerti.
Pelukan Sekyung semakin erat ditubuh
Haru. "Haru... Luhan meninggal dunia. Kemarin malam Luhan mengalami
kecelakaan. Ia tertabrak mobil di depan Incheon Airport"
Jantung Haru terasa hilang dari
dadanya mendengar ucapan Sekyung. Seketika ia tidak bisa merasakan lagi detakan
jantungnya.
"Tidak mungkin... Kau jangan
bercanda." Haru menggelengkan kepalanya dengan tatapan kosong. "Luhan
tidak mungkin meninggal... Sejak tadi ia ada disini... Aku seharian
bersamanya.. Tidak mungkin... Tidak mungkin Luhan meninggal..."
"Haru!" Pekik Sekyung
memeluk tubuh Haru yang mematung didepannya dengan tatapan kosong.
Tak ada airmata di wajah Haru. Ia
tidak bisa merasakan apa-apa. Tiba-tiba ia menjadi mati rasa. Ia tidak percaya
Luhan mengalami kecelakaan. Tidak mungkin. Luhan selalu bersama dirinya.
"Haru maafkan aku baru memberi
tahumu.. Sejak pagi aku tidak bisa menemukanmu. Kau sudah tidak ada diapartemen
saat tadi aku datang kesana"
Haru menggelengkan kepalanya lagi.
"Luhan tidak mungkin meninggal! Dia ada disana! Dia duduk disana melihat
aku bermain biola!"
"Haru!!" Sekyung mengejar
Haru yang tiba-tiba berlari ke arah panggung.
Luhan ada disana. Luhan duduk disana
sambil tersenyum memberiku semangat.
"Haru! Maafkan aku memberitahu
mu sekarang" Sekyung menahan Haru untuk berlari ke tengah panggung dengan
memeluknya.
"Itu! Luhan duduk di.."
Seruan Haru terhenti saat matanya tidak melihat lagi Luhan yang duduk disana.
Luhan tidak ada. Hanya 1 bangku kosong diantara penonton yang lain.
"Tidak mungkin... Bagaimana
bisa??" Haru tidak ingin airmata nya keluar. Ia masih belum percaya.
"Haru kau harus menerima ini..
Luhan tidak ada. Dia sudah meninggal..." Sekyung terus memeluk Haru dengan
erat sambil terus terisak. Ia sudah membawa Haru kembali ke belakang panggung.
"Maaf Haru-ssi.. Aku dari
kepolisian. Ini... Ponsel milik korban." Haru menerima ponsel yang
diberikan oleh salah satu pria yang tadi datang bersama Sekyung. Ia mengenal
ponsel ini. Ini milik Luhan.
"Ponsel itu ditemukan tidak
jauh dari lokasi kecelakaan. Sepertinya korban melempar ponselnya sesaat
sebelum ia berlari ingin menyelamatkan gadis kecil. Tapi justru tubuh korban
yang tertabrak setelah ia mendorongnya."
"Dan didalam ponsel itu ada
sebuah pesan yang terakhir yang ia kirim. Jadi kami bisa melacak rekan korban
yang ada di Korea untuk diberitahu. Yaitu kau, Haru-ssi"
Dengan cepat ia membuka ponsel milik
Luhan. Dan ia juga baru ingat semenjak Luhan datang ia tidak pernah mengecek
ponselnya lagi. Ia membuka pesan terakhir Luhan yang dikirimkan untuknya.
To: My Lovely Haru
From: Luhan
Aku sangat merindukanmu.
Aku akan menemuimu sekarang.
Sent. Yesterday. 02.17
Tubuh Haru merosot jatuh terduduk
kelantai. Tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas membaca waktu yang tertera di pesan
itu. Karena setelah waktu pesan itu terkirim, Haru yakin itu saat Luhan datang
ke apartemennya. Berarti saat mobil menabrak tubuh Luhan.
"Tidak!!! Tidak
mungkin!!!" Haru mengerang kencang sambil menggelengkan kepalanya kuat
tidak mau mempercayai ini.
Sekyung langsung memeluk erat tubuh
Haru lagi yang sudah menangis. Ia juga terisak kencang. Semenjak sekolah
Sekyung sudah berteman dengan Haru dan Luhan. Mendengar berita ini sudah
membuatnya terpukul, bagaimana dengan perasaan Haru yang sudah menjalin
hubungan dengan Luhan selama 5 tahun.
"Luhan tidak mungkin
meninggal... Sejak semalam Luhan bersamaku... Tadi pagi aku sarapan dengannya..
Aku juga pergi naik kincir angin bersama Luhan... Dia juga menolongku...
Tanganku tidak terkena air panas.. Aku juga tidak jatuh ke lubang.. Luhan
menyelematkanku... Dia terus membuatku merasa tenang untuk pertunjukan ini...
Dia duduk disana tersenyum menatapku.. Luhan masih hidup.."
Sekyung memeluk kepala Haru. Mencoba
menghentikan Haru berbicara cepat seperti itu sambil menatap kosong kearahnya.
Ia masih terus menangis melihat sahabatnya mengalami shock yang sangat berat
seperti ini. Sekyung mencoba mempercayai setiap perkataan Haru. Mungkin yang
bersama Haru sejak kemarin adalah arwah Luhan yang menemani Haru. Terus
memberikan Haru semangat untuk pertunjukan biolanya yang seharusnya Luhan
hadiri.
Sekyung menahan isakannya
membersihkan air mata yang terus mengalir di wajah Haru. Dan terus memeluknya
mendengar Haru mengucapkan perkataan yang selalu diulang olehnya.
"Luhan masih hidup.. Luhan
tidak mungkin meninggal.. Aku memeluk Luhan..."
Tamat.
Next: Xiumin's Story ^^

0 komentar:
Post a Comment